SERI KHOTBAH KARAKTER DANIEL
Bagian 3
DANIEL: Man of Courage
Ayat Pokok:
"Demi didengar oleh Daniel, bahwa surat perintah itu telah dibuat, pergilah ia ke rumahnya. Dalam kamar atasnya ada tingkap-tingkap yang terbuka ke arah Yerusalem; tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya."
(Daniel 6:11)
Pendahuluan
Salah satu karakter Daniel yang patut kita pelajari adalah dia seorang yang berani (Man of courage).
Daniel adalah seorang yang berani menghadapi tantangan dan tidak mudah menyerah dalam menghadapi masalah.
Dalam Daniel 6, kita dapat melihat bagaimana Daniel menghadapi ancaman hukuman mati, hanya karena ia tetap berdoa kepada Allah.
Keberanian bukan berarti tidak pernah merasa takut.
Keberanian adalah kesediaan untuk tetap melakukan apa yang benar sekalipun kita mengetahui adanya resiko.
Daniel adalah salah satu tokoh Alkitab yang menunjukkan keberanian yang luar biasa dan perlu kita contoh.
Kristus adalah teladan utama kita, tetapi kita dapat juga meneladani tokoh-tokoh dalam Alkitab, meskipun pasti mereka, sebagai manusia biasa, tetap mempunyai kelemahan dan kekurangan.
Hanya Kristus teladan utama kita yang sempurna tanpa cacat dan cela.
Pokok-Pokok Khotbah
1. Keberanian lahir dari keyakinan yang kuat kepada Tuhan.
"Demi didengar Daniel, bahwa surat perintah itu telah dibuat, pergilah ia ke rumahnya. Dalam kamar atas ada tingkap-tingkap yang terbuka ke arah Yerusalem; tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya."
(Daniel 6:11)
Daniel mengetahui bahwa surat larangan berdoa telah ditandatangani oleh Raja Darius. Ia mengetahui bahwa siapapun yang melanggar perintah tersebut akan dilemparkan ke gua singa.
Namun, Daniel tetap berdoa kepada Allah seperti yang biasa dilakukannya.
Mengapa Daniel berani?
Karena ia yakin bahwa kuasa Tuhan jauh lebih kuat dari ancaman manusia.
Daniel tidak menjadikan ancaman sebagai alasan untuk meninggalkan Tuhan.
Ia tidak berpikir bahwa keselamatan sementara lebih penting daripada kesetiaan kepada Allah.
Kalimat Perenungan:
Keberanian orang percaya bukan berasal dari kekuatan dirinya sendiri, melainkan dari keyakinan bahwa Tuhan layak dipercaya dan ditaati.
Aplikasi:
Berani mempertahankan iman sekalipun diejek.
Berani berkata jujur sekalipun menghadapi kerugiaan.
Berani menolak perbuatan dosa sekalipun menghadapi tekanan.
Berani tetap setia kepada Tuhan sekalipun keadaan tidak mendukung.
Orang yang sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan, tidak akan mudah dikalahkan oleh ancaman manusia.
2. Keberanian terbukti ketika kita tetap melakukan yang benar di tengah ancaman.
"Demi didengar Daniel, bahwa surat perintah itu telah dibuat, pergilah ia ke rumahnya. Dalam kamar atasnya ada tingkap-tingkap yang terbuka ke arah Yerusalem; tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya. Lalu orang-orang itu bergegas-gegas masuk dan mendapati Daniel sedang berdoa dan bermohon kepada Allahnya"
(Daniel 6:11-12)
Daniel tidak menyembunyikan imannya. Ia tetap membuka tingkap-tingkap kamarnya, berlutut, berdoa dan memuji Allah seperti kebiasaanya.
Perhatikan bahwa Daniel tidak baru berdoa ketika menghadapi masalah, tetapi menjadikan doa sebagai gaya hidupnya.
Ia sudah memilik kehidupan doa yang konsisten jauh sebelum ancaman itu datang.
Ketika peraturan kerajaan bertentangan dengan kesetiaannya kepada Tuhan, Daniel memilih untuk tetap melakukan apa yang benar.
Daniel tidak mencari jalan kompromi dengan meninggalkan kebiasaan doanya.
Ia juga tidak membalas kejahatan dengan kejahatan.
Ingat !
Iman yang sejati tidak hanya terlihat ketika keadaan baik, tetapi juga ketika kita harus memilih antara ketaatan kepada Tuhan dan kenyamanan hidup.
3. Keberanian yang disertai iman, akan mempermuliakan Tuhan.
"Lalu sangat bersukacitalah raja dan ia memberi perintah, supaya Daniel ditarik dari dalam gua itu, dan tidak terdapat luka apa-apa padanya, karena ia percaya kepada Allahnya."
(Daniel 6:24)
Daniel akhirnya dilemparkan ke gua singa.
Secara manusia, tidak ada harapan baginya untuk selamat. Singa-singa itu dapat membunuhnya kapan saja.
Tetapi Tuhan tidak meninggalkan Daniel.
Daniel 6:23 menjelaskan bahwa Daniel diangkat dari gua itu dalam keadaan tidak terdapat luka apapun padanya, karena ia percaya kepada Allahnya.
Apa yang terjadi kemudian?
Raja Darius mengakui kebesaran Allah Daniel dan mengeluarkan pernyataan agar seluruh wilayah kerajaannya menghormati Allah Daniel.
Perhatikan hasilnya:
Keberanian Daniel bukan hanya membawa keselamatan bagi dirinya, tetapi juga menjadi kesaksian tentang kebesaran Allah.
Daniel tidak tahu bagaimana Tuhan akan menyelamatkannya, tetapi ia tetap percaya kepada Tuhan.
Penutup
Daniel memberikan teladan bahwa keberanian merupakan bagian penting dari kehidupan orang percaya. Ia hidup di tengah lingkungan yang berbeda. Ia menghadapi ancaman yang serius. Bahkan nyawanya sendiri menjadi taruhan.
Tetapi Daniel tidak menggadaikan imannya demi keselamatan sementara.
Dari kehidupan Daniel kita belajar tiga hal:
1. Keberanian lahir dari keyakinan yang kuat kepada Tuhan
2. Keberanian terbukti ketika kita tetap melakukan yang benar di tengah ancaman.
3. Keberanian yang disertai iman akan menjadi kesaksian yang memuliakan Tuhan.
DAPATKAN MATERI POWERPPOINT DARI KHOTBAH INI KLIK DISINI




















