Perikop ini terletak di bagian akhir pelayanan Yesus di Galilea dan Perea, tepat sebelum masuk ke Yerusalem (Mrk. 11).
Secara literer, kisah Bartimeus menjadi:
- Mukjizat penyembuhan terakhir dalam Injil Markus.
- Penutup rangkaian pengajaran tentang pemuridan (Mrk. 8–10).
- Kontras dengan kebutaan rohani murid-murid (Mrk. 8:17–21; 10:35–45).
Pokok-pokok khotbah
1. Kondisi Awal: Marginalisasi dan Ketidakberdayaan (ayat 46)
"Lalu tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Yerikho. Dan ketika Yesus keluar dari Yerikho, bersama-sama dengan murid-murid-Nya dan orang banyak yang berbondong-bondong, ada seorang pengemis yang buta, bernama Bartimeus, anak Timeus, duduk di pinggir jalan”
(Markus 10:46)
2. Kristologi Bartimeus: Pengakuan Mesianik(ay.47)
"Ketika didengarnya, bahwa itu adalah Yesus orang Nazaret, mulailah ia berseru: ”Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!" (Lukas 10:47)
3. Iman yang Persisten di Tengah Oposisi (ayat 48)
"Banyak orang menegornya supaya ia diam. Namun semakin keras ia berseru: ”Anak Daud, kasihanilah aku!" (Lukas 10:48)
- Hambatan sosial terhadap akses kepada Yesus.
- Representasi dunia yang mencoba membungkam iman.
"Lalu Yesus berhenti dan berkata: ”Panggillah dia!” Mereka memanggil orang buta itu dan berkata kepadanya: ”Kuatkan hatimu, berdirilah, Ia memanggil engkau.” (Lukas 10:49)
- Allah yang transenden sekaligus imanen.
- Mesias yang menuju salib tetap peka terhadap individu marginal.
Kerumunan yang menegur kini menjadi perantara panggilan.
- Perlindungan dasar.
- Mungkin satu-satunya miliknya (bdk. Kel. 22:26–27).
- Meninggalkan identitas lama.
- Risiko iman (karena ia belum sembuh saat jubah ditinggalkan).
- Antisipasi perubahan radikal.
"Tanya Yesus kepadanya: ”Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?” Jawab orang buta itu: ”Rabuni, supaya aku dapat melihat! Lalu kata Yesus kepadanya: ”Pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau!” Pada saat itu juga melihatlah ia, lalu ia mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya” (Lukas 10:51-52)
Ironinya:
- Murid meminta kemuliaan
- Bartimeus meminta penglihatan.
- Menyembuhkan
- Menyelamatkan secara rohan
- Gereja harus berhati-hati agar tidak menjadi “kerumunan yang membungkam.”
- Iman yang menyelamatkan bukan sekadar pengakuan verbal, tetapi diikuti tindakan.
- Mukjizat terbesar bukanlah pemulihan fisik, melainkan transformasi menjadi pengikut Kristus.
- Mari kita renungkan bersama: Apakah kita masih duduk di pinggir jalan, atau sudah berjalan bersama Kristus menuju salib?
- Kebutaan fisik sebagai metafora kebutaan rohani.
- Iman sebagai respons aktif terhadap wahyu Kristus.
- Anugerah Kristus yang inklusif bagi yang tersisih.
- Keselamatan menghasilkan pemuridan.
- Pengenalan Kristus
- Seruan iman
- Respon anugerah
- Transformasi hidup
- Pemuridan sejati
- Transformasi Bartimeus:
- Ia yang buta melihat.
- Ia yang tersisih menjadi murid.
- Ia yang mengemis kini berjalan bersama Sang Mesias menuju Yerusalem.
EBOOK 29 BAHAN KHOTBAH PILIHAN JILID 1


















