Minggu, 29 November 2020

NATAL MELEPASKAN KITA DARI KETAKUTAN

 

NATAL MELEPASKAN KITA DARI KETAKUTAN
Ayat Pokok : Lukas 1:13; Lukas 2:10

Pendahuluan
Ketakutan adalah permasalahan manusiawi yang pasti akan dialami oleh semua manusia yang ada di dunia. Selama manusia ada di dalam dunia, maka pasti akan mengalami masalah ketakutan ini. Apapun tingkat golongannya, kaya-miskin, tua-muda, besar-kecil, pastilah semuanya akan tetap merasakan yang namanya ketakutan. Kita merassa takut ketika berhadapan dengan  sesuatu yang mengerikan atau hal-hal yang menakutkan. Ketakutan itu normal, tetapi terus tinggal  dalam ketakutan, itulah yang tidak normal.

Hari-hari ini ada banyak peristiwa yang terjadi di dunia ini yang dapat membuat kita merasa takut. Peristiwa bencana alam seperti tanah longsor, gempa bumi, kecelakaan pesawat dapat saja menjadi alasan untuk orang mengalami ketakutan. Belum lagi kondisi ekonomi yang tidak menentu hari-hari ini. Harga-harga yang terus melambung tinggi, bahkan kekerasan yang terjadi disana-sini, membuat banyak orang merasa kehilangan kedamaian.

Mampukah kita merasakan makna natal yang sesungguhnya? Ataukah natal hanya sekedar perayaan yang nantinya berlalu begitu saja tanpa makna? Mari kita merenungkan makna natal yang sejati yaitu bahwa natal melepaskan kita dari ketakutan.

Mengapa kita menjadi takut?
Ketakutan dapat terjadi kepada setiap orang. Sekalipun mungkin orang tersebut memiliki hubungan yang akrab dengan Tuhan. Memang ketakutan ada  dua hal. Ada ketakutan yang positif dan memang harus kita kembangkan. Tetapi  ada juga ketakutan negatif yang seharusnya tidak perlu ada dalam kehidupan kita. Ketakutan yang positif misalnya : takut kepada Allah kalau melakukan kebohongan, dll. Ketakutan yang  negatif misalnya : takut kepada setan, takut kepada kegagalan. dll. Persoalannya ada anak-anak Tuhan yang mengalami ketakutan yang negatif. mengapa hal ini terjadi?

a. Kehilangan pengharapan (Lukas 1:7,18)
kehilangan pengharapan dapat terjadi  kepada siapa saja, bahkan hal ini terjadi dalam kehidupan Zakheus dan Elisabeth. Ternyata tidak semua orang mengenal dan tahu siapa yang menjadi pengharapannya.
Pertanyaanya, Kita tahu kepada siapa kita berharap, akan tetapi apakah kita mengenal siapa yang menjadi sumber pengharapan kita?

b. Ketika melihat segala sesuatu sesuai dengan pikiran manusia (Lukas 1:34)

Allah menciptakan manusia beda dengan yang lainnya, karena manusia memiliki otak dan pikiran. Namun seringkali dengan pikiran membuat kita mengecilkan kuasa Tuhan. Mari melihat kuasa Tuhan dengan pikirannya (ay.34). Memang secara manusia, hal tersebut nyata dan tidak mungkin  terjadi (Ay.18). Pikiran kita sangat mempengaruhi  untuk mempercayai kuasa Allah.

c. Kehilangan sukacita (Lukas 1:10;14)
Kehilangan sukacita menimbulkan ketakutan dalam hidup manusia. Zakharia dan Elisabeth kehilangan sukacita karena tidak memiliki keturunan. Sukacita dapat lenyap  karena beban, pergumulan dalam kehidupan manusia. Apakah sukacita kita ditentukan dengan keberadaan di luar diri kita? Atau siapa yang menjadi sumber sukacita kita?

Apa yang dilakukan Tuhan Yesus Kristus, Juruselamat kita?
Untuk melepaskan kita dari ketakutan, Tuhan Yesus melakukan hal-hal sebagai berikut dalam kehidupan kita.

Pertama, Yesus Kristus memberikan pengharapan yang baru (Lukas 1:13)
Amsal 23:18;24:14
Yesus memberikan pengharapan yang baru dalam hidup kita. Pengharapan akan masa depan di dunia ini. Pengharapan akan penyelesaian segala persoalan yang kita alami, bahkan yang lebih penting dari segalanya adalah bahwa Yesus Kristus  memberikan pengharapan akan "Hidup yang kekal" di dalam Yesus  Kristus.

Agnes Monika pernah menyanyikan sebuah lagu," Dimanakah letak Sorga itu?" Ada begitu banyak orang yang belum paham betul, bahkan tidak ada jaminan tentang pengharapan saat penghakiman. Namun kelahiran Yesus Kristus menggenapkan pengharapan yang kekal dan abadi.

Jika pengharapan kita di Sorga, Dia yatakan melalui Yesus, mengapa kita mesti takut untuk masalah-masalah yang tidak kekal?

Kedua, Yesus Kristus memungkinkan segala sesuatu (Lukas 1:37)
Pikiran manusia sangat terbatas untuk mampu memahami kemahakuasaan Tuhan. Namun seringkali justru manusia menggunakan pikirannya untuk melihat kuasa Tuhan dinyatakan. Ketika kita mengukur kemahakuasaan Tuhan dengan  pikiran kita, maka sama saja dengan kita mengecilkan kuasa Tuhan. Bagi Allah segala sesuatu mungkin. Apa yang menyebabkan kita mengalami ketakutan?Keadaan, pergumulan, beban hidup yang membuat kita meragukan kuasa Tuhan. Namun Allah sanggup melakukan jauh dari apa yang ada dalam pikiran kita.

Ketiga, Yesus Kristus sumber segala sukacita kita (Lukas 2:10)
Yesus Kristus memberikan sukacita  yang melampaui segala batas, karena Dialah  sumber sukacita itu. Sukacita kita tidak ditentukan dengan apa yang ada diluar kita, melainkan apa yang ada di dalam kita.

Penutup
Hari ini apa yang menjadi ketakutan Anda?
Allah melalui kelahiran Yesus Kristus melenyapkan segala ketakutan kita. Ia memberikan pengharapan yang baru. Memungkinkan segala jawaban doa yang menurut manusia tidak mungkin dan Ia memberikan sukacita penuh melebihi segalanya. Jangan biarkan natal hanya sebagai perayaan biasa, namun biarlah natal melepaskan kita dari segala ketakutan.

MILIKI BUKU 29 BAHAN KHOTBAH NATAL DENGAN DONASI Rp.35.000 KLIK DISINI
FLASHDISK PAKET NATAL 2020 KLIK DISINI

0 komentar:

Posting Komentar