Minggu, 06 Maret 2022

MENDENGAR DAN MELAKUKAN FIRMAN TUHAN

 Ayat Pokok:
"Ketika Yesus masih berbicara, berserulah seorang perempuan dari antara orang banyak dan berkata kepada-Nya: ”Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau dan susu yang telah menyusui Engkau.” Tetapi Ia berkata: ”Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya.”
(Lukas 11:27-28)

Pendahuluan
Melihat semua yang Yesus perbuat, mujizat yang Ia lakukan, cara-Nya mengajar dan berbicara, maka banyak orang merasa kagum kepada-Nya.  Maka tidaklah mengherankan, semakin banyak orang yang datang kepada-Nya (Yohanes 2:23). Bahkan banyak juga orang Samaria yang datang kepada-Nya ( Yohanes 4:39).
Melihat itu semua, seorang perempuan yang datang saat Tuhan Yesus sedang mengajar berkata, "Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau dan susu yang telah menyusui Engkau."(ayat 27).
Tetapi bagaimana jawab Tuhan Yesus? 
Tuhan Yesus menjawab,"Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya."(ayat 28)

Kebahagiaan Menurut Manusia
Dari ayat-ayat ini, kita dapat melihat bahwa, ada sudut pandang yang berbeda mengenai kebagiaan, menurut perempuan, yang juga mewakili sudut pandang manusia mengenai kebahagiaan, dengan sudut pandang Tuhan Yesus mengenai kebahagiaan.
Melihat apa yang diperbuat oleh Tuhan Yesus, perempuan itu  berpikir dan memastikan bahwa Maria adalah seorang yang berbahagia karena memiliki anak yang terkenal, dapat melakukan segala hal dan berhasil dalam mendidik anak. 
Tentu kita tidak menolak dengan apa yang dipikirkan oleh perempuan itu. Hal-hal diatas adalah juga salah satu alasan mengapa kita disebut sebagai orang yang berbagia. Kitapun pasti akan merasa bahagia bila memiliki anak yang punya banyak prestasi, namanya dikenal banyak orang sebagai anak yang baik, dll. Apalagi ditambah dengan keadaan ekonomi kita yang berkecukupan, semua aman, tidak ada permasalahan dalam kehidupan.
Secara umum, hal-hal materi seperti kekayaan, tingkat pencapaian atau kesuksesan:usaha, jabatan, popularitas menjadi penentu kebagagiaan seseorang.
Namun bernarkah demikian?
Ternyata tidak sepenuhnya benar. Ada orang yang memiliki banyak kekayaan secara materi, terkenal dimana-mana, tetapi ternyata hidupnya tidak bahagia, bahkan merana.

Kebahagiaan Menurut Tuhan Yesus
Bagaimana kebahagiaan menurut Tuhan?
Dengan bijak, Tuhan Yesus menanggapi pendapat atau pemikiran dari perempuan itu.  Tuhan Yesus tidak menyalahkan, karena Ia memaklumi bahwa itulah pendapat umum manusia mengenai kebahagiaan.  Tetapi Tuhan Yesus juga tidak membiarkan  perempuan itu dan orang-orang yang saat itu datang, salah memahami tentang kebahagiaan. Dan Tuhan Yesus tentu juga tidak ingin kita yang membaca ayat ini pada hari ini, salah memahami tentang kebahagiaan.
Tuhan Yesus, tidak berbasa-basi dengan berkata, "Terimakasih Bu, jawabannya benar." Tuhan Yesus dengan tegas meng-counter pernyataan tersebut dengan jawaban, " yang berbagaia ialah mereka yang mendengar firman Allah dan yang memeliharanya."(ay.28)
Jadi orang yang berbahagia menurut Tuhan Yesus adalah orang yang
1. Mendengar firman Allah
2. Melakukan firman Allah

Mendengar firman Allah
Kata "mendengar "biasanya dikaitkan dengan kegiatan menangkan bunyi yang dilakukan dengan sungguh-sungguh, dilakukan secara sengaja dan menurut konsentrasi atau perhatian yang sungguh-sungguh. Setiap kali Tuhan Yesus mengajar, selalu mengingatkan para pendengar untuk mendengar dengan sungguh-sungguh.

"Dan sebagian jatuh di tanah yang baik, dan setelah tumbuh berbuah seratus kali lipat.” Setelah berkata demikian Yesus berseru: ”Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!”
(Lukas 8:8)

"Karena itu, perhatikanlah cara kamu mendengar. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, dari padanya akan diambil, juga apa yang ia anggap ada padanya.”
(Lukas 8:18)

"Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!"
(Matius 11:15)

Kegiatan mendengar menuntut si pendengar menyimak apa yang dikatakan/dibacakan. Apakah seseoramg mendengarkan atau sekedar mendengar, dapat diukur dari tingkat pengetahuan (tahu) dan pemahamannya (paham).

Kapan kita mendengar firman Tuhan?
Pada saat Kitab Suci dibacakan dan pada saat kita membaca Kitab Suci (Bdk. Why 1:3). Karena itu dalam sharing Injil dan dalam setiap pendalaman iman atau pendalaman kitab suci, saat kita meminta seseorang untuk membacakan ayat yang ditentukan (kitab suci) fasilitator selalu mengingatkan “Bacalah dengan suara yang lantang,  jelas, penuh pemaknaan dan dalam suasana doa” dan kepada kita yang mendengar akan diingatkan “mari kita dengarkan sabda Tuhan dengan sungguh” atau “mari kita mendengarkan sabda Tuhan dengan membaca dari kitab suci kita masing-masing dan seturut irama saudara kita yang akan membacakannya untuk kita”. Dan bagi para lektor, dalam setiap latihan selalu ditekankan cara membaca yang baik dan benar. Prinsipnya lektor bukan sekedar membaca, tetapi membacakan, dan bukan membaca bagi dirinya tetapi membacakan bagi orang lain.

Penulis Wahyu menegaskan “Berbahagialah ia yang membacakan dan mereka yang mendengarkan kata-kata nubuat ini” (Why 1:3). Bagi Yesus, tidak ada kebahagiaan yang lebih besar di dunia ini ketimbang mereka yang tahu bahwa mereka telah mendapatkan keselamatan kekal (bdk. Luk 10:20), mereka yang tahu telah dibebaskan dari keterikatan (Bdk. Gal 3:22-29)

Memelihara firman Tuhan
Yesus mengingatkan bahwa yang berbahagia bukan saja orang yang mendengarkan Firman Allah, tetapi juga yang memelihara Firman Allah. Memelihara di sini berarti tekun melakukan. (bdk.perumpamaan tentang orang membangun rumah di Mat 7: 24-27 perumpamaan tentang talenta di Mat 25:25-30) dan tekun merawat (Bdk. Perumpamaan tentang penabur di Mat 13:3-8).
Penulis kitab Wahyu kembali menegaskan “Berbahagialah ia yang membacakan dan mereka yang mendengarkan kata-kata nubuat ini, dan yang menuruti apa yang ada tertulis di dalamnya” (Why 1:3).
Dalam kegaiatan kita lebih kita kenal dengan AKSI NYATA dan MENGHIDUPI AYAT KEHIDUPAN 

Penutup
Firman Tuhan harus kita baca, dengarkan, dan pelihara dengan melakukan sehingga firman itu semakin bertumbuh dan berakar dalam hati, pikiran, dan hidup kita.
“Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga” (Mat 7:21)
"Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri. "(Yakobus 1:22)

LINK INFORMASI PENTING
FLASHDISK TEMPLATE POWERPOINT DAN DESAIN GRAFIS
BUKU 29 BAHAN KHOTBAH PILIHAN JILID 1
BUKU 29 BAHAN KHOTBAH KEDUKAAN DAN PENGHIBURAN
BUKU 29 BAHAN KHOTBAH PEMBERKATAN NIKAH

0 komentar:

Posting Komentar